Montase Review by Indah Ria Eldiana
XII IPS 2
6 Februari 2014
Judul: Montase
Penulis: Windry Ramadhina
Penerbit: Gagas Media
Genre: Drama, Romance
Terbit: Desember 2012
Tebal: 368 Halaman
Harga: Rp 49.000
Bagaimana rasanya jika hidup dan masa depanmu sudah diatur
oleh orang lain, dan kamu tak sanggup mengelak? Padahal, kamu punya mimpi yang
sangat ingin kamu raih dengan segenap hati. Mimpi yang melibatkan passion-mu,
yang membuatmu sanggup merelakan waktu-waktumu untuk melakukan hal itu dan
meninggalkan sejenak prioritas utamamu. Lalu, bagaimana rasanya ketika
seseorang hadir dan merenggut hatimu secara perlahan-lahan, membuatmu tersadar
ada sesuatu istimewa di dalam dirinya yang sanggup menyita seluruh perhatianmu?
Seseorang yang juga menggugah kesadaranmu untuk kembali bersemangat mewujudkan
mimpi. Montase adalah cerita tentang penggalan-penggalan hari seorang pemuda
yang berusaha untuk tetap berjalan meraih mimpi dan cintanya, meski halangan
dan tantangan terus diberikan.
Sinopsis :
Aku berharap tak pernah bertemu
denganmu.
Supaya aku tak perlu menginginkanmu, memikirkanmu dalam lamunku.
Supaya aku tak mencarimu setiap kali aku rindu.
Supaya aku tak punya alasan untuk mencintaimu.
Dan terpuruk ketika akhirnya kau meninggalkanku.
Tapi...,
kalau aku benar-benar tak pernah bertemu denganmu, mungkin aku tak akan pernah tahu seperti apa rasanya berdua saja denganmu. Menikmati waktu bergulir tanpa terasa.
Aku juga tak mungkin bisa tahu seperti apa rasanya sungguh-sungguh mencintai...
dan dicintai sosok seindah sakura seperti dirimu.
Supaya aku tak perlu menginginkanmu, memikirkanmu dalam lamunku.
Supaya aku tak mencarimu setiap kali aku rindu.
Supaya aku tak punya alasan untuk mencintaimu.
Dan terpuruk ketika akhirnya kau meninggalkanku.
Tapi...,
kalau aku benar-benar tak pernah bertemu denganmu, mungkin aku tak akan pernah tahu seperti apa rasanya berdua saja denganmu. Menikmati waktu bergulir tanpa terasa.
Aku juga tak mungkin bisa tahu seperti apa rasanya sungguh-sungguh mencintai...
dan dicintai sosok seindah sakura seperti dirimu.
Rayyi adalah seorang mahasiswa di Institut Kesenian Jakarta.
Biasanya kan, seseorang yang belajar seni ya didasarkan atas kemauannya
sendiri, kan? Tetapi tidak dengan Rayyi. Tidak sepenuhnya salah juga, sih.
Maksud saya, Rayyi menyukai membuat film. Namun di IKJ Rayyi terpaksa mengambil
peminatan Produksi Film sementara yang ia inginkan adalah membuat film
dokumenter. Rayyi harus melakukan hal tersebut karena ambisi ayahnya yang
adalah seorang produser film komersial terkenal dan memiliki rumah produksi
besar yang nantinya akan dipercayakan kepada Rayyi. Keterpaksaan yang membuat
Rayyi sering mencuri waktu untuk mengikuti mata kuliah film dokumenter, dan
diam-diam di waktu senggangnya dia merekam kegiatan orang lain di kehidupan sehari-hari
demi membuat film dokumenter.
Lalu suatu hari, Rayyi bertemu Haru, mahasiswi IKJ asal
Jepang yang sempat membuatnya geram karena mengalahkan film dokumenternya dalam
suatu kompetisi. Padahal, menurut Rayyi film yang dibuat oleh gadis pendek ini
biasa-biasa saja. Apalagi, sifat dan pembawaan Haru yang ceroboh dan suka
terburu-buru yang membuat menyusahkan orang lain, bagi Rayyi membuat gadis ini
semakin tidak menarik. Tetapi, lewat satu pertemuan Rayyi mendapati bahwa gadis
ini sungguh di luar dugaannya. Apalagi ketika mereka pergi berdua, dan Rayyi
merekam Haru untuk tugas kuliahnya, saat itulah Rayyi tahu bahwa pelan-pelan
Haru telah mencuri hatinya. Banyak hal yang Rayyi dapat dari Haru, terlebih
ketika Rayyi tahu alasan Haru mengambil kuliah tentang film dokumenter dan
bukannya seni rupa seperti hobinya, juga karena orang tuanya Haru, tetapi
bedanya Haru melakukannya dengan suka hati. Haru menyadarkannya bahwa sebuah
mimpi itu harus diraih, di sisi lain papa Rayyi terus bertindak tegas untuk Rayyi
konsentrasi di bidang Produksi Film Komersial. Lalu, bagaimana Rayyi memilih
jalan hidupnya sendiri?
Novel Montase ditulis oleh Windry Ramadhina dengan sudut
pandang orang pertama, yaitu sudut pandang si Rayyi sebagai tokoh sentral. Dan
yang saya sukai, meski ceritanya bersifat drama dengan alur yang cenderung
datar, tetapi penuturan Rayyi sebagai tokoh utama pria bagus sekali. Poin plus untuk
novel ini. Konfliknya bagus, masalah-masalah yang diutarakan dapat ditangkap
oleh saya sebagai pembaca dengan baik, dan juga adegan-adegan sehari-hari yang
diceritakan juga sederhana tetapi kuat. Hal tersebut merupakan poin plus
lainnya. Tetapi seperti yang saya bilang, alurnya cenderung datar sempat
membuat saya merasa gemas ketika membaca.
Tetapi secara keseluruhan, saya dapat mengatakan novel ini
bagus, meski bagus yang agak tanggung. Haha. Entahlah, saya merasa di beberapa
bagian novel ini memang agak mengganjal meskipun saya menyukainya. Makanya saya
‘hanya’ memberi 3 dari 5 bintang di goodreads. Karakter-karakter lain di novel
ini juga lumayan membantu memperkuat cerita, terutama Samuel Hardi, sineas film
dokumenter terkenal yang arogan tetapi sangat dikagumi oleh Rayyi. Pada
akhirnya, jika jalan hidupmu sudah ditentukan oleh orang lain yang sangat
berpengaruh bagimu, tetapi keputusan akhir tetap ada di tanganmu, kan? Dan
proses Rayyi memilih inilah yang menjadikan novel Montase ini menarik.
Montase
Review by Indah Ria Eldiana
XII IPS 2
6 Februari
2014
Title: Montase
Author: Windry Ramadhina
Publisher: Gagas Media
Genre: Drama, Romance
Published: December 2012
Number of Page : 368Pages
Price: Rp 49.000
How does it feel when life and your future is set
by someone else, and you can not dodge? In fact, you have a dream that you
would love to achieve with all your heart. Dreams involving your passion, which
could make you give up your time-time to do that and leave the moment your
first priority. Then, how it feels when someone comes and takes away your heart
slowly, makes you realize there is something special in him that could
confiscate all your attention? Someone who is also evocative of consciousness
to realize the dream of re-energized. Montase is a story about the fragments of
a young man who tried to keep walking to achieve their dreams and love, despite
the obstacles and challenges continue to be provided.
Synopsis :
I wish I had never met you. So I do
not have to want you, thinking of you in my seagrass.
So I was looking for you every time I
missed. So I had no reason to love you.
And worse when you finally leave.
But ...,
if I really had never met you, I probably will
never know what it sesation like both of you. Enjoying time rolling unnoticed.
I also could not know what it really love ... and be loved figure like yourself
as beautiful cherry
Rayyi is a student at the Institut
Kesenian Jakarta. Normally it, someone who learned the art of yes based on his
own, right? But not with Rayyi. Not completely wrong as well, anyway. I mean,
Rayyi love making movies. But in IKJ Rayyi forced to take specialization in
Film Production while he wanted was to make a documentary. Rayyi should do so
because of the ambition of his father who is a well-known commercial film
producer and has a large production house that will be entrusted to Rayyi.
Compulsion which makes Rayyi often steal time to follow the documentary
subjects, and secretly in his spare time he recorded the activities of others
in everyday life for the sake of making a documentary film.
Then one day, Rayyi met Haru, Jakarta
Arts Institute student from Japan who had infuriated him for defeating his
documentary in competition. In fact, according to Rayyi films made by short
girl is mediocre. Moreover, the nature and disposition Haru sloppy and like the
rush that makes troublesome to others, for Rayyi make it increasingly
unattractive girl. However, through a meeting Rayyi found that this girl really
unexpected. Especially when they go out together,Rayyi and Haru record for
college assignment, then that Rayyi know that slowly Haru had stolen his heart.
Many things Rayyi can get from Haru, especially when Rayyi know the reason Haru
took a lecture on documentary and fine art rather than as a hobby, as well as
his parents Haru, but Haru difference did it willingly. Haru him realize that
it a dream to be achieved, on the other hand papa Rayyi continue to act
decisively to Rayyi concentration in Commercial Film Production. Then, how
Rayyi choose his own destiny?
Montase novel written by Windry
Ramadhina the first person perspective, the viewpoint of the Rayyi as the
central figure. And I liked, even though the story is a drama with a groove
that is flat, but the narrative of the main character Rayyi as a nice guy.
Points plus for this novel. Great conflict, the problems can be expressed as
captured by my readers well, and scenes of everyday also narrated a simple but
powerful. This is another plus point. But as I said, the plot is flat could
make me feel exasperated when reading.
But overall, I can say this novel is good, although a rather
good responsibility. I do not know, I feel in some parts of the novel is a
little wedge though I love it. So I gave 3 out of 5 stars on Goodreads. Other
characters in the novel also bearable help reinforce the story, especially
Samuel Hardi, a famous documentary filmmaker arrogant but highly admired by
Rayyi. In the end, if the way your life is determined by others who are very
influential to you, but the final decision is in your hands, right? And the
process is what makes the Rayyi chose this novel interesting montase.
No comments:
Post a Comment